Ulasan Pangeran Samber Nyowo - TABLOID MISTIS 7

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Saturday, August 10, 2013

Ulasan Pangeran Samber Nyowo

????????Astana Mangadeg merupakan makam keturunan Kerajaan Mangkunegaran. Makam itu terkenal memiliki daya mistis dan tempat sakral yang tidak bisa diperlakukan sembarangan. Posisi dan keberadaan Astana Mangadeg di atas Astana Giribangun di lereng barat Gunung Lawu tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebagai leluhur di atasnya yang melindungi, “hamemayungi” menjadi payung keberadaan makam anak cucunya.
Banyak fenomena mistis membuktikan keberadaan Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Makam itu merupakan Raja Mangkunegoro III (sebutan jawa; Mangkunegoro III) keturunan Raja Mataram Panembahan Senopati selalu melindungi dan merestui makam anak cucu di bawahnya. Salah satu yang dimakamkan disini adalah Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I. Pangeran Adi terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Tokoh kesohor raja Mangkunegaran dikenal sakti mandraguna dan selalu menjadi rujukan raja-raja Mataraman baik Surakartan (Solo) dan Ngayogyokarto Hadiningrat (Yogya).
Kejadian-kejadian
mistis itu seolah-olah kedua raja dan sesepuh Mangkunegaran yang dimakamkan di sini di antaranya Kanjeng Pangeran Adi Pati Arya Sri Mangkunegara I, atau disebut Pangeran Samber Nyowo memberikan restu maupun memberikan perlindungan pada saat-saat tertentu dari kejahatan atau perbuatan tangan-tangan jahil. Beberapa peristiwa dan fenomena mistis aneh terjadi di antaranya saat makam Presiden Kedua Indonesia, HM Soeharto digali. Suasana pemakaman Soeharto di Astana Giribangun kala itu sedang redup, tak ada awan. Hanya angin yang berhembus pelan saat itu. Soeharto dimakamkan pada Minggu Wage, 27 Januari 2008 setelah Azan Asar sekitar pukul 15.30 WIB. Keluarga besar Soeharto dan sejumlah tokoh ternama baik dari dalam maupun luar negeri.
images2Sebelum penggalian, keluarga besar Soeharto melakukan upacara Bedah Bumi. Tujuannya adalah agar penggalian dapat berjalan lancar dan selamat. Upacara tersebut dipimpin oleh Begug Purnomosidi mantan Bupati Wonogiri. Upacara dimulai dengan menancapkan linggis ke tanah pemakaman sebanyak tiga kali. Yang pertama, tidak terjadi apapun dan begitu pula dengan yang kedua. Namun, kejadian yang membuat merinding bulu kuduk terjadi saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya. “Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami,” kata juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun Soekirno. Para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya sontak kaget mendengar ledakan itu. Mereka saling berpandangan. Bingung. Mencoba mereka-reka dan mencari-cari dari mana asal suara menggelegar itu.“Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun,”  kata Sukirno.
????????Anehnya, tak ada yang porak poranda. Tak ada benda yang bergeser karena suara ledakan itu. Terbesit di pikiran, mungkin itu suara ghaib. Semua yang ada di tempat itu terdiam, terpaku. Lalu, suara Begug Purnomo Sidi memecah keheningan. “Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau,” tutur Sukirno, menirukan kalimat Bupati Wonogiri. Tidak hanya itu yang dialami sang juru kunci Astanagiribangun Sukirno. Beberapa bulan sebelum kematian Soeharto, terjadi longsor mendadak di bawah Perbukitan Astana Giribangun. Selain pengalaman menggali makam Soeharto, pria kelahiran Karanganyar tahun 1953 itu juga masih ingat ketegangan terjadi di Astana Giribangun, tahun 1998, saat kekuasaan Soeharto berakhir. Masa di mana-mana menghujat dan ingin mengadili Soeharto beserta keluarganya. Terjadi pula perebutan tanah-tanah serta pengerusakan aset negara yang saat itu dikuasai Soeharto di beberapa daerah. Hingga merembet ada kabar, makam keluarga Soeharto itu bakal diserang dan akan dirusak oleh ribuan masa. “Bersama warga saya memasang drum-drum di tengah jalan. Di depan pertigaan di depan SD Ibu Tien yang terletak di tanjakan menjelang Astana. Kami memalang puluhan batang bambu ori berduri. Siapa yang melintas dengan berjalan kaki sekalipun, tak bakal gampang menembusnya,” tutur Sukirno.
Malam-malam pun terasa panjang. Orang-orang kampung dan desa secara bersama-sama dengan pengurus dan berjaga di sekitar makam. Dari pesawat komunikasi HT terdengar sandi, 1.000 “kuda lumping” yang artinya ada seribu pengedara sepeda motor menuju dan bergerak mengarah ke Astana. Atau lima ratus “gerobak” atau 500 pengendara mobil juga. “Anehnya tak pernah sekalipun mereka yang hendak melempari Astana dan merusak bangunan makam di sini itu benar-benar tiba,”  kata Sukirno.  Sukirno berkeyakinan arwah para leluhur raja Mangkunegaran datang dan melindungi sebab arwah leluhur bagi orang Jawa diyakini masih bersemayam dan jika dalam situasi darurat akan muncul dan melakukan perlindungan. Apalagi leluhur mereka yaitu Kanjeng Pangeran Adi Pati arya Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo yang memiliki Aji Panglimunan itu

 Nama lengkapnya Raden Mas Said atau R.M.Ng Suryokusumo, sering juga disebut P.Sambernyowo dan sebagai Kepala Pemerintahan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro.

Pada waktu di Kerajaan Mataram terjadi perlawanan rakyat terhadap Belanda tahun 1740, R.M Said telah berumur 14 tahun. Dalam usia itu ia telah berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa orang temannya dan secara bersama-sama mereka ikut bertempur dalam barisan rakyat.

Ketika Belanda berhasil kembali menguasai keadaan, beliau bersama adik dan teman-temannya meninggalkan Kartosuro untuk menyusun kekuatan di luar Keraton.

Ia mempersiapkan diri bersama pengikutnya di Nglaroh dengan latihan perang. Setelah persiapan dirasa cukup, ia menggabungkan diri dengan Sunan Kuning melakukan perlawanan terhadap Belanda. Lebih kurang satu tahun lamanya ia berjuang besama Sunan Kuning. Saat Sunan Kuning memindahkan pusat perjuangan ke arah Timur (Pasuruan), ia tetap tinggal di daerah Jawa Tengah dan memusatkan perhatiannya di Mojokerto Wonosemang. Para pengikutnya mengangkatnya sebagai Pangeran Adipati Mangkunegoro.

Untuk menumpas perlawanan R.M Said, Belanda mengirimkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar. Sebagian besar pasukan yang dikirim di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi. Pasukan R.M Said terdesak, namun ia berhasil meloloskan diri dan membangun kekuatan baru di tempat lain.

Tahun 1746 Pangeran Mangkubumi menggabungkan diri dengan R.M Said untuk melawan Belanda. Selama 9 tahun mereka berjuang bersama-sama. Dalam perjuangan itu, R.M Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi.

Untuk mematahkan perlawanan pasukan R.M Said dan Pangeran Mangkubumi, Belanda menjalankan politik "devide et impera". Belanda berhasil membujuk Pangeran Mangkubumi menghentikan perlawanan. Tanggal 13 Februari 1755 di Desa Gianti diadakan perjanjian damai antara Belanda, Sunan Pakubuwono III dan Mangkubumi. Dalam perjanjian itu Mataram dibagi dua yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono I.

Sementara itu, R.M Said yang tidak senang dengan kekuasaan Belanda tetap melanjutkan perjuangan. Dengan perasaan berat ia terpaksa mengerahkan pasukan Surokarto dan Yogyakarta yang didukung oleh pasukan Belanda. Sekalipun menghadapi tiga lawan sekaligus, kekuatan pasukannya tidak mudah dipatahkan.

Sekalipun berhasil di medan perang, R.M.Saidi menyadari bahwa perang yang berlarut-larut dan berlangsung cukup lama menimbulkan kesengsaraan rakyat. Karena itulah ketika ia menerima surat dari Pakubuwono III yang memintanya untuk turut serta membangun kerajaan Surakarta yang telah rusak akibat perang, R.M Said bersedia menghentikan perlawanan. Tanggal 24 Februari 1757 diadakan perjanjian di Salatiga antara R.M Said di satu pihak dengan Sunan Pakubuwono III dan Sultan Hamengkubuwono I (diwakilit oleh Patih Danurejo).


Dengan perjanjian Salatiga,berakhirlah perlawanan R.M Said yang telah berlangsung selama 16 tahun terus menerus. Perjanjian itu melahirkan pula sebuah wilayah baru dalam bekas Kerajaan Mataram, yakni wilayah Mangkunegoro pada 28 Desember 1757. R.M Said diangkat menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Selama menjalankan pemerintahan ia membangun pasar-pasar, memajukan irigasi, membangun tempat-tempat peribadahan, serta mengembangkan kebudayaan antara lain dengan penulisan babad.

Semangat juang dan rasa kestia kawanannya sangat menonjol tercermin dalam semboyan perjuangan "Tijitibeh" atau "Mati Siji Mati Kabeh Mukti Siji Mukti Kabeh", yaitu "Mati saatu mati semua, mulia satu mulia semua". Ia mengembangkan prinsip Tri Dharma Yang mencakup :

1. Rumongso melu handarbeni (merasa ikut memiliki).
2. Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan).
3. Mulai Sariro Hangsoro wani (mawas diri dan berani bertanggungjawab).

Tanggal 28 Desember 1795 R.M Said meninggal dunia, dan Pemerintah pun memberinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Bagaimana gelar Pangeran Sambernyowo itu diperoleh R.M Said? Taktik gerilya dari R.M Said cukup memusingkan Belanda. Ia sempat menghancurkan satu detasemen pasukan Belanda,bahkan Komandannya Kapten Van der Pol tewas dalam pertempuran ini. Kejadian ini sangat memalukan Belanda, bahkan tanggal 28 Oktober 1756 R.M Said berhasil memporak porandakan benteng Belanda di Yogyakarta.

Karena kemampuannya dalam pertempuran yang banyak menimbulkan kerugian di pihak Belanda, ia mendapat julukan Pangeran Sambernyowo. Penulis Belanda, De Jange mengatakan bahwa jumlah prajurit R.M Said tidak begitu banyak akan tetapi mental jujur dan setia, terlatih dan mempunyai daya tempur yang tinggi.


Sisi Spirit


Ketawang Clunthang
Lelana laladan sepi

Wusnya sepi anggayuh warsiteng adi
Lire adi sepa sepah ing asamun

Tinarbuka sagung gumlaring dumadi

Dumadine tan samar kodrating Widhi

Nulya labet harjaning gesang sesami

Dhandhanggula

Wonten malih tuladhan prayogi


Wanodyayu trahing Witaradya

Dyah Rubiah tetengere

Tansah nggegulang kalbu

Amrih kandel kumandeling ati

Duk jaman ing samana

Nyata wus misuwur

Karana sulistyanira

Risang Ayu ginarwa Sang Adipati

Trahing Mangkunagara

(Kaanggit dening Ki Soedarsono Sa’Tjiptorahardjo)

Teks Ketawang Clunthang di atas adalah sebuah gambaran tentang Raden Mas Said, yang dikenal juga dengan nama Pangeran Sambernyawa, yang Kelak bertahta di Surakarta dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.

Beliau bergerilya melawan penjajah Belanda sejak usia 18 hingga 32 tahun. Jadi selama 17 tahun, hidupnya diabdikan untuk mengusir penjajah. Ia mempunyai garwa padmi anak dari Pangeran Mangkubumi. Mertua dan menantu ini bahu membahu bergerilya dari desa ke desa. Tetapi di tengah perjuangan itu Pangeran Mangkubumi berhasil dibujuk oleh Gubernur Jenderal Batavia untuk ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Hamengku Buwono I.


Pangeran Sambernyawa sangat merakyat dannperjuangannya melawan penjajah Belanda juga bahu-membahu bersama rakyat, Sehingga beliau dalam menyatukan pasukannya selalu dengan pekikan: “Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Artinya dalam berjuang mengusir penjajah kalau satu mati, semua harus berjuang sampai mati. Kalau satu berjaya, semua juga harus berjaya. Sama rata sama rasa sama bahagia.


Di tengah perjalanan, di sebuah desa Matah, beliau beristirahat untuk beberapa waktu. Pada malam hari ada seorang warga desa yang nanggap wayang. Beliau hanya menonton dari jauh. Tiba-tiba Pangeran Sambernyowo melihat sinar dari langit turun ke halaman tempat perhelatan. Beliau mendekati cahaya itu dan ternyata berasal dari paha salah seorang penonton, seorang gadis yang kainnya tersingkap. Beliau lalu menyobek kain sang gadis di dekat pengasihan. Pada malam itu hampir semua penonton perempuan tertidur pulas, termasuk sang gadis yang kainnya tersingkap tadi.



Setelah pertunjukan usai, sang ajudan diminta memanggil seluruh penonton perempuan dan berbaris berjajar di hadapan Raden Mas Said. Setelah melihat gadis yang kainnya disobek tadi maka RMS meminta agar sang gadis bisa segera membawa ayahnya ke hadapannya.


Begitu sang ayah dihadapkan ternyata ia adalh Kyai Nuriman guru ngajinya. maka dimintalah Rubiyah, nama gadis tersebut sebagai istri. Lalu diberi gelar RAy Patahati, karena lahir di desa Matah dan mematahkan hati sang Pangeran.


Tembang ke-dua Dhandahanggula adalah untuk menggambarkan siapa Rubiah yang cantik dan kelak menjadi kepala prajurit wanita yang selalu unggul dalam peperangan. Dan putra-putrinya kelak, atas didikan sang ayahanda KGPAA Mangkunegara I, setiap panen padi, tidak ada terkecuali seluruh anggota Puri Mangukenagaran harus turun ke sawah untuk ikut ani-ani memanen padi.


Pada usia 22 tahun, R. M. Sahid dijodohkan dengan putri P. Mangkubumi yaitu R. A. Inten. Oleh mertuanya itu nama R. M. Said diberi gelar Pangeran Adipati Hamengkunegoro Senopatining Panata Baris Lalana Adikareng Nata. Pesanggrahan mereka berada di Mataram. Maka atas penghormatan sang menantu, P. Mangkubumi ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Kangjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama. R. M. Sahid kemudian diangkat sebagai patih sekaligus panglima perang dan bergelar Senopati Kawasa Misesa Wadya. Selama 9 tahun mereka melawan Kartasura dan Belanda.



Ketika R. M. Said berusia 28 tahun, terjadi perselisihan dengan P. Mangkubumi yang sekaligus paman dan mertuanya. Pangkal perselisihan adalah ketika Paku Buwono II wafat, kerajaan diserahkan kepada Belanda. Belanda kemudian membujuk Mangkubumi akan diberi kekuasaan, yang disahkan dalam Perjanjian Giyanti (1755M). Inti perjanjian adalah kekuasaan Mataram dipecah dua. P. Mangkubumi diberi kekuasaan baru di Yogyakarta yang kemudian disebut Kesultanan dan PB III berkuasa di Surakarta yang kemudian disebut Kasunanan. mangkubumi lalu berganti gelar Sultan Hemengku Buwono Senopati Ngalogo Abdurarahman Sayidin Panatagama.


R. M. Said bercita-cita menyatukan kembali Mataram, maka ia terus berperang melawan Belanda, dan itu berarti melawan Kasultanan dan Kasunanan yang mau bekerjasama dengan Belanda. R. M. Said dalam berperang melawan Belanda dan juga Kasunanan dan Kasultanan memakan waktu 16 tahun dan terdiri atas 250 peperangan. Ia sendirian melawan Belanda, Hemengkubuwono I (P. Mangkubumi), dan Paku Buwono III.


Taktik penyerangan dengan menggunakan 3 cara: dhedhemitan, weweludan, dan jejemblungan. Menghindar dari musuh yang berjumlah besar, menyerang musuh ketika lengah dengan secepat-cepatnya, bunuh musuh sebanyak-banyaknya, setelah itu pergi dan menghilang. Karena taktik itulah kemudian Raden Mas Sid dijuluki Pangeran Sambernyawa.

1 comment:

  1. INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL JAMIN 100% TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH TERBUKTI 9X TRIM’S ROO,MX SOBAT




    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL JAMIN 100% TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH TERBUKTI 9X TRIM’S ROO,MX SOBAT




    INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL JAMIN 100% TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH TERBUKTI 9X TRIM’S ROO,MX SOBAT

    ReplyDelete

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here