Dongeng Rawa Pening - TABLOID MISTIS 7

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Tuesday, August 6, 2013

Dongeng Rawa Pening


Dahulu kala, warga desaNgebel terkejut melihatseekor ular yang sangatbesar. Karena takut ular ituakan menyerang mereka,warga desa beramai-ramaimenangkap ular yangbernama Baru Klinting itu.Setelah tertangkap ular itudibunuh dan dagingnyadisantap dalam sebuahpesta. Hanya satu wargadesa yang tidak mereka ajakmenikmati pesta itu, yaituseorang nenek tua miskinbernama Nyai Latung.Beberapa hari kemudianmuncul seorang anak laki-laki berumur sekitar sepuluhtahun. Ia
tampak kumal dantidak terawat, bahkankulitnya pun ditumbuhipenyakit. Anak itumendatangi setiap rumahdan meminta makanankepada warga desa. Namuntak seorang punmemberinya makanan atauair minum. Mereka malahmengusirnya dan mencacimakinya.Akhirnya ia tiba di rumahyang terakhir, rumah NyaiLatung. Di depan rumah reotitu Nyai Latung sedangmenumbuk padi denganlesung.“Nenek,” kata anak itu, “Sayahaus. Boleh minta air, nek?”Nenek Latung mengambilsegelas air yang diminumanak itu dengan lahap.
NyaiLatung memandangi anak itudengan iba.“Mau air lagi? Kau maumakan? Tapi nenek cumapunya nasi, tidak ada lauk.”“Mau, nek. Nasi saja sudahcukup. Saya lapar,” sahutanak itu.Nenek segera mengambilkannasi dan sisa sayur yang ada.Ia juga mengambilkan airlagi untuk anak itu, Anak itumakan dengan lahap, hinggatidak sebutir nasipun tersisa.“Siapa namamu, nak? Dimana ayah ibumu?”“Namaku Baru Klinting. Ayahdan ibu sudah tiada.”“Kau tinggal saja di sinimenemani nenek,”“Terima kasih, nek. Tapi sayapergi saja. Orang-orang disini jahat, nek. Hanya neneksaja yang baik hatikepadaku.”Baru Klinting kemudianbercerita tentang wargadesa yang tidak ramahkepadanya. Kemudian, ia punpamit. Sebelum pergi, iaberpesan kepada NyaiLatung.“Nek, nanti jika nenekmendengar suarakentongan, nenek naiklah keatas lesung. Nenek akanselamat.”Meskipun tidak mengertimaksud Baru Klinting, NyaiLatung mengiyakan saja.Baru Klinting masuk ke desalagi. Ia mendatangi
anak-anak yang sedang bermain.Ia mengambil sebatang lidilalu menancapkannya ditanah. Lalu ia memanggilanak-anak.“Ayo… siapa yang bisamencabut lidi ini?”Anak-anak mengejek BaruKlinting namun ketika satuper satu mereka mencobamencabut lidi, tak ada yangberhasil. Mereka punmemanggil anak-anak yanglebih besar. Semua mencoba,semua gagal. Orang-orangdewasa pun berkumpul danmencoba mencabut lidi.Tetap tidak ada yangberhasil.Akhirnya Baru Klintingsendiri yang mencabutsendiri lidi itu. Dari lubang ditanah bekas menancapnyalidi memancar air yangmakin lama makin banyakdan makin deras. Orang-orang berlarian kalangkabut, Salah seorangmembunyikan kentongansebagai tanda bahaya.Namun air cepat menjadibanjir dan menenggelamkanseluruh desa.Nyai Latung mendengarbunyi kentongan dikejauhan, Ia teringat pesanBaru Klinting dan segera naikke atas lesung. Baru ia dudukdi dalam lesung, air sudahdatang dan makin tinggi.Lesung itu terapung-apung.Nyai Latung melihat
paratetangganya sudah matitenggelam.Setelah beberapa lama, airberhenti naik dan perlahan-lahan mulai surut. LesungNyai Latung terbawa menepisehingga ia dapat naik kedarat. Hanya ia yang selamatdari banjir. Warga desa yanglain semuanya tewas.Air tidak seluruhnya keringkembali namunmeninggalkan genanganluas berbentuk danau yangsekarang disebut RawaPening. Rawa Pening terletakdi daerah Ambarawa.Rawa Pening luasnya 2670hektare. Sekarang digunakanuntuk pengairan dan budidaya ikan selain jugamenjadi tempat wisata.Enceng gondok yangmemenuhi permukaannyadigunakan untuk bahankerajinan dan keperluan lain.Sedangkan air sungaiTuntang yang berhulu didanau itu digunakan untukpembangkit listrik. Namunsekarang Rawa Peningmengalami pendangkalandan dikhawatirkan lambatlaun akan lenyap bila tetapdibiarkan seperti saat ini.Rawa Pening....

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here