Napak Tilas Pangeran Samber Nyowo - TABLOID MISTIS 7

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Wednesday, July 17, 2013

Napak Tilas Pangeran Samber Nyowo

13556158241525061660
koleksi Trophen Museum
Ketawang Clunthang
Lelana laladan sepi
Wusnya sepi anggayuh warsiteng adi
Lire adi sepa sepah ing asamun
Tinarbuka sagung gumlaring dumadi
Dumadine tan samar kodrating Widhi
Nulya labet harjaning gesang sesami
Dhandhanggula
Wonten malih tuladhan prayogi
Wanodyayu trahing Witaradya
Dyah Rubiah tetengere
Tansah nggegulang kalbu
Amrih kandel kumandeling ati
Duk jaman ing samana
Nyata wus misuwur
Karana sulistyanira
Risang Ayu ginarwa Sang Adipati
Trahing Mangkunagara
(Kaanggit dening Ki Soedarsono Sa’Tjiptorahardjo)
Teks Ketawang Clunthang
di atas adalah sebuah  gambaran tentang Raden Mas Said, yang dikenal juga dengan nama Pangeran Sambernyawa, yang Kelak bertahta di Surakarta dengan gelar  KGPAA Mangkunegara I.
Beliau bergerilya melawan penjajah Belanda sejak usia 18 hingga 32 tahun. Jadi selama 17 tahun, hidupnya diabdikan untuk mengusir penjajah. Ia mempunyai garwa padmi anak dari Pangeran Mangkubumi. Mertua dan menantu ini bahu membahu bergerilya dari desa ke desa. Tetapi di tengah perjuangan itu Pangeran Mangkubumi berhasil dibujuk oleh Gubernur Jenderal Batavia untuk ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Hamengku Buwono I.
Pangeran Sambernyawa sangat merakyat dannperjuangannya melawan penjajah Belanda juga bahu-membahu bersama rakyat, Sehingga beliau dalam menyatukan pasukannya selalu dengan pekikan: “Tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Artinya dalam berjuang mengusir penjajah kalau satu mati, semua harus berjuang sampai mati. Kalau satu berjaya, semua juga harus berjaya. Sama rata sama rasa sama bahagia.
Di tengah perjalanan, di sebuah desa Matah, beliau beristirahat untuk beberapa waktu. Pada malam hari ada seorang warga desa yang nanggap wayang. Beliau hanya menonton dari jauh. Tiba-tiba Pangeran Sambernyowo melihat sinar dari langit turun ke halaman tempat perhelatan. Beliau mendekati cahaya itu dan ternyata berasal dari paha salah seorang penonton, seorang gadis yang kainnya tersingkap. Beliau lalu menyobek kain sang gadis di dekat pengasihan. Pada malam itu hampir semua penonton perempuan tertidur pulas, termasuk sang gadis yang kainnya tersingkap tadi.
Setelah pertunjukan usai, sang ajudan diminta memanggil seluruh penonton perempuan dan berbaris berjajar di hadapan Raden Mas Said. Setelah melihat gadis yang kainnya disobek tadi maka RMS meminta agar sang gadis bisa segera membawa ayahnya ke hadapannya.
Begitu sang ayah dihadapkan ternyata ia adalh Kyai Nuriman guru ngajinya. maka dimintalah Rubiyah, nama gadis tersebut sebagai istri. Lalu diberi gelar RAy Patahati, karena lahir di desa Matah dan mematahkan hati sang Pangeran.
Tembang ke-dua Dhandahanggula adalah untuk menggambarkan siapa Rubiah yang cantik dan kelak menjadi kepala prajurit wanita yang selalu unggul dalam peperangan. Dan putra-putrinya kelak, atas didikan sang ayahanda KGPAA Mangkunegara I, setiap panen padi, tidak ada terkecuali seluruh anggota Puri Mangukenagaran harus turun ke sawah untuk ikut ani-ani memanen padi.
Pada usia 22 tahun, R. M. Sahid dijodohkan dengan putri P. Mangkubumi yaitu R. A. Inten. Oleh mertuanya itu nama R. M. Said diberi gelar Pangeran Adipati Hamengkunegoro Senopatining Panata Baris Lalana Adikareng Nata. Pesanggrahan mereka berada di Mataram. Maka atas penghormatan sang menantu, P. Mangkubumi ditahtakan di Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Kangjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama. R. M. Sahid kemudian diangkat sebagai patih sekaligus panglima perang dan bergelar Senopati Kawasa Misesa Wadya. Selama 9 tahun mereka melawan Kartasura dan Belanda.
Ketika R. M. Said berusia 28 tahun, terjadi perselisihan dengan P. Mangkubumi yang sekaligus paman dan mertuanya. Pangkal perselisihan adalah ketika Paku Buwono II wafat, kerajaan diserahkan kepada Belanda. Belanda kemudian membujuk Mangkubumi akan diberi kekuasaan, yang disahkan dalam Perjanjian Giyanti (1755M).  Inti perjanjian adalah kekuasaan Mataram dipecah dua. P. Mangkubumi diberi kekuasaan baru di Yogyakarta yang kemudian disebut Kesultanan dan PB III berkuasa di Surakarta yang kemudian disebut Kasunanan. Mangkubumi lalu berganti gelar Sultan Hemengku Buwono Senopati Ngalogo Abdurarahman Sayidin Panatagama.
R. M. Said bercita-cita menyatukan kembali Mataram, maka ia terus berperang melawan Belanda, dan itu berarti melawan Kasultanan dan Kasunanan yang mau bekerjasama dengan Belanda. R. M. Said dalam berperang melawan Belanda dan juga Kasunanan dan Kasultanan memakan waktu 16 tahun dan terdiri atas 250 peperangan.  Ia sendirian melawan Belanda, Hemengkubuwono I (P. Mangkubumi), dan Paku Buwono III.
Taktik penyerangan dengan menggunakan 3 cara: dhedhemitan, weweludan, dan jejemblungan.  Menghindar dari musuh yang berjumlah besar, menyerang musuh ketika lengah dengan secepat-cepatnya, bunuh musuh sebanyak-banyaknya, setelah itu pergi dan menghilang. Karena taktik itulah kemudian Raden Mas Said dijuluki Pangeran Sambernyawa. ( salam alus )

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here